Bukan, bukan mau menceritakan ulang cerita rakyat yang legendaris. Tapi beneran tentang bahan masakan si bawang merah dan bawang putih, yang bagi rakyat +62 tanpanya masakan terasa hambar.
Pengasuhan pada masa kecil gw bisa dibilang lebih banyak dipegang peranannya oleh nenek. Karena bapak dan ibu keduanya bekerja, maka gw dan adik banyak menghabiskan waktu sama nenek. Pulang dari sekolah biasanya tepat di waktu menjelang makan siang.
Pada masanya kita ga boleh nonton tv tanpa ada orangtua, dan belum ada gawai seperti sekarang. Yang dilakukan sepulang sekolah ya bantu nenek masak. Nenek dengan jutaan resepnya dan seluruh kombinasi lauk pauk di otaknya, ga pernah lewat menggunakan 2 bahan itu setiap hari : bawang merah dan bawang putih.. dan 2 bahan ini selalu menjadi tugas gw dan adik gw, ngupasin dan motongin. Sesudahnya diolah sama nenek sedemikian rupa sehingga jadi lauk paling enak sedunia yang sampai saat ini selalu gw kangenin.

Sering banget ditanya orang, “Ka, sibuk kaya gitu kok lo sempet2nya masak?” Buat gw masak bukan tugas, ga gw lakukan dengan berat hati karena suatu keharusan (kecuali waktu harus rebusin ayam buat yukka pas lagi hamil, baunya bikin enek), karena kalo lagi males ya bisa order aja juga. Masak buat gw jadi metode relaksasi. Mungkin karena gerakannya yg repetitif, tanpa target tertentu karena intinya buat dimakan aja, ga harus enak2 bgt karena gw juga bukan koki profesional, yang penting cukup aja.
Selain gerakan motong2, ngupas2 yg repetitif dan bikin santai, masak sambil dengerin lagu favorit adalah salah satu momen2 paling menyenangkan di ujung hari, apalagi sambil nunggu suami pulang kerja dan anak2 lagi main di luar. Masak, adalah momen untuk diri gw sendiri. Terakhir pas masakannya jadi, kadang ga penting tapi seneng bgt nata2 biar instagramable, padahal difoto aja kadang ga di post. Katanya sih ada fenomenanya ya, dimana foto makanan sebelum dimakan jadi salah satu bentuk penghargaan pecinta kuliner terhadap kokinya.
Maka masak, bagi gw adalah momen untuk mengenang masa-masa indah sama nenek di dapur, adalah bentuk untuk berhenti sejenak dan tidak berpikir, adalah momen yang memaksa melepaskan hp dari tangan, adalah bentuk kasih sayang untuk anak-anak, adalah bentuk bakti sama suami.
Btw, gw ga masak setiap hari ya, suami gw makanannya super sehat, ga makan nasi putih, untungnya dia masak untuk dirinya sendiri, jadi ga susah. Kadang kalau menu yg gw masak dia approve maka gw akan masak lebih banyak untuk dia juga, tapi kalau ga, dia akan masak sendiri juga tanpa beban. Belum pernah nanya, tapi jangan2 buat dia masak juga punya arti mendalam.



Segini aja ya, tulisan pun dibuat sambil nunggu masakan gw matang. Lapar ya.. Selamat makan semua 💕
Leave a comment