Disrupsi di tahun ini memang tak terelakan, dimana dampaknya terasa sekali di semua aspek, khususnya di Pendidikan tentunya kegiatan belajar mengajar yang titik beratnya selama ini adalah di pertemuan tatap muka murid dengan guru jadi harus bergeser ke pertemuan daring.
Kami yang selama ini merupakan wadah bagi murid dan guru untuk menemukan program dan variasi belajar, berpegang pada pengembangan kompetensi dan menyajikan variasi blended learning, memang sudah terbiasa bekerja sama dengan sekolah, guru, komunitas pendidikan dan industri. Bersama-sama menyajikan variasi pembelajaran yang menyenangkan dengan cara blended learning. Begitu covid melanda banyak sekali keluhan dan permohonan pertolongan yang diminta oleh banyak pemangku kepentingan juga ke kami.
Bagi murid : stress karena limitasi terhadap akses ke materi ajar dan guru, bagi orangtua : sulitnya membagi waktu antara menjadi guru dan bekerja, bagi guru : sulitnya memaksimalkan pembelajaran yang selama ini bertumpu pada interaksi di sekolah / kampus, bagi sekolah : bingung dalam memastikan penyampaian materi ajar dan menjaga stabilitas penerimaan murid.
Menanggapi pertanyaan pilihan-pilihan apa yang sebaiknya diambil oleh dunia Pendidikan Indonesia dalam mengatasi tantangan tersebut, bagi saya ada beberapa poin.
1. Inovasi
Setiap stakeholders perlu memilih metode-metode yang baik, selama ini pendidikan yang diartikan dengan bertumpu pada interaksi tatap muka, jadi terpaksa berubah. Baik guru maupun murid orangtua semua harus bisa berinovasi. Banyak kami temukan karena ketiadaan akses, guru jadi serta merta hanya memberikan tugas yang banyak kepada siswa, sedangkan banyak sekali metode ajar yang tentunya sudah bisa diakses oleh banyak pihak.
Sekolah juga harus berinovasi, yang tadinya belajar dengan metode e-learning adalah suatu bentuk tambahan yang tidak menjadi prioritas, sekarang menjadi suatu kewajiban yang tentunya mengubah kebiasaan. Saya sendiri sebagai orangtua juga belajar sangat banyak, bahwa variasi dari teknologi berupa game, kuis, tontonan edukasi, semua bertebaran di dunia maya, maka fungsi kurasi adalah fungsi yang sangat penting bagi orangtua dan guru. Selain itu fungsi suggestion atau pilihan rekomendasi juga menjadi sangat penting, guru dapat mengoptimalkan pembelajaran dengan cara memberikan rekomendasi yang baik pada murid, di sini fungsi teknologi pun bermain, dimana AI bisa memetakan kemampuan dan minat masing-masing murid untuk memberikan personalisasi pada pengajaran.
Bagi area yang sulit akses internet ataupun terbatas dalam pengajaran, Sekolahmu selama ini menyebarkan materi-materi ajar yang dapat diakses lewat WhatsApp, maupun dapat diprint sehingga murid-murid dapat belajar dengan materi ajar tersebut. Bekerja sama dengan komunitas-komunitas di berbagai daerah kami menyebarluaskan konten interaktif di dalam flash disk, dan memberikan buku serta materi ajar ke penjuru Indonesia.
2. Kolaborasi
Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, kalau di Sekolah.mu kami biasa selalu datang ke sekolah dengan menawarkan pelatihan guru, pelatihan kepala sekolah dan pelatihan orangtua, kami menyadari dengan keterlibatan yang dilakukan selama ini bahwa penting sekali untuk melibatkan semua pihak. Kolaborasi antar orangtua dan guru menjadi hal yang sangat penting.
Selama covid ini kami banyak sekali mengetuk pintu dunia industri untuk berbagi praktik baik Pendidikan, dan menyadari bahwa semua pemangku kepentingan ini sangat bersedia untuk membantu dan terlibat dalam dunia pendidikan dalam berbagai hal. Baik memberikan konten, membantu mengajar, memberikan alat pengajaran. Sehingga gotong royong demi pendidikan ini sangat terasa. PR berikutnya adalah pemerataan tentunya, bagaimana setiap hal baik ini bisa secara cepat dan mudah sampai ke murid2 yang membutuhkan. Dan salah satu jalannya memang melalui teknologi.
Setelah ini rasanya semuanya akan berubah, apresiasi orangtua terhadap guru, dan pemahaman mengenai pembelajaran itu sendiri pastinya akan berbeda, level kedewasaan setiap stakeholders dalam hal ini sekolah, guru maupun murid akan sangat berbeda dalam penerapan kegiatan belajar mengajar ke depannya.
Bagi saya yang bergerak di bidang teknologi pendidikan, dari sebelum masa pandemi sudah biasa bekerja sama dengan sekolah, guru, murid dan orangtua untuk memaksimalkan kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif. Di masa pandemi ini kembali lagi menegaskan & memantapkan pilihan yang sudah ditempuh yaitu kolaborasi & inovasi. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dimana pemegang kepentingannya banyak namun keputusan apapun yang diambil harus berpihak pada anak.
Peran teknologi pendidikan dalam hal kolaborasi ini kurang lebih :
1. Memaksimalkan komunikasi & akses antara murid, guru, orangtua. Dalam hal ini kemudahan administrasi, transparasi belajar, reporting dan portfolio.
2. Memberikan variasi pengajaran yang menyenangkan bagi murid, banyaknya data dan tren yang dibaca, kemudian menghasilkan rekomendasi dan personalisasi dibantu machine learning dan AI sehingga murid menemukan program-program sesuai minat dan bakatnya & meningkatkan kompetensinya.
3. Di era ini, sumber ajar dapat ditemukan di mana saja, belajar pun bisa di mana saja, sehingga fungsi kurasi oleh guru & sekolah juga harus bisa dibantu lewat teknologi Pendidikan, membantu guru menjadi merdeka dan berdaya dalam memberikan materi ajar.
4. Menghubungkan murid dengan mentor dan praktisi sehingga pembelajaran lebih relevan dengan dunia industri dan memberikan eksplorasi karier yang beragam bagi murid untuk bekal di masa depan.
5. Selain itu kita tidak boleh lupa, bahwa masih banyak area yang tidak terjamah oleh internet di Indonesia, sehingga kolaborasi dengan pemerintah pun menjadi penting dalam distribusi materi-materi ajar non-digital.
Ke depannya tentu tingkat literasi digital bagi seluruh pemegang kepentingan di dunia Pendidikan pun sudah terakselerasi, kami yakin bahwa teknologi pendidikan tidak untuk menggantikan guru atau sekolah, namun harus bisa membantu sekolah bertransformasi digital, mengoptimalkan dan memberikan pengalaman belajar yang yang berpihak pada anak sehingga murid bisa merdeka belajar.
Bahasan ini ditulis dalam rangka memperingati 100 tahun Institut Teknologi Bandung, ITB menyelenggarakan talkshow bertema Indonesia Bicara: ITB dalam Abad Baru bagi Indonesia Baru pada 2 Juli 2020 yang disiarkan di TVRI, saya berkesempatan untuk berbicara bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim, B.A., M.B.A., Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., dengan moderator Prof. Dr. Ir. I Gede Raka. Topiknya menarik sehingga rasanya perlu juga ditulis untuk refleksi bersama 🙂



19 April 2021

Leave a comment